Kamis, 26 Januari 2023

Berani Mengkritik

Berani Mengkritik

Mulanya kreator ini hanya ingin meluangkan aspirasinya melalui sebuah konten story di instagram. Konten tersebut biasa ia bikin dihari minggu malam, isi dari konten itu bermula menceritakan terhadap sebuah kejadian tentang isu sosial. 

Ia sangat tertarik mengenai isu-isu sosial semenjak dia menggenal dan mendalami sebuah grup band lokal yang beranggotakan tiga personil yaitu grup band "SID". Band ini menurutnya sangat menginspirasi kehidupannya baik dalam mengerjakan tugas sekolah hingga menyusun kata-kata dalam membuat tugas. 

Suatu kejadian tak mengenakan terjadi pada maret 2020 dimana pandemi melanda negeri ini. Ia makin suka terhadap isu sosial ditambah lagi dimasa itu (tahun 2020) banyak sekali ibu ibu yang ingin melahirkan namun harus mengikuti prosedur kesehatan (rapit tes, ataupun swab tes). Iya semakin berani melantangkan aspirasinya melalui media sosial, sampai akhirnya ia berani membandingkan kasus ibu-ibu yang ingin melahirkan dengan kasus penjemputan salah satu tokoh masyarakat terkenal di Jakarta yang dihadiri banyak orang, tapi tokoh tersebut tidak menerapkan protokol kesehatan, tidak menerapkan standar yang diberikan pemerintah pada saat itu.

Iya juga berani mengkritik pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dengan menerapkan perbandingan pada saat awal pandemi kota-kota atau desa-desa disemprot disinfektan sedangkan disaat pandemi yang kian melonjak kegiatan itu tidak dilaksanakan kembali terutama di daerahnya dia dan beberapa lingkup temannya.

Pandemi sudah berlalu isu berikutnya adalah kenaikan harga BBM. Pemerintah baru saja menaikkan harga BBM setelah itu beberapa lama kemudian pemerintah menaikkannya lagi hingga tercetus 10.000 per liter untuk pertalite. 

Kenaikan boleh saja dilakukan, tapi banyak berita-berita beredar dan kreator ini pun mengalaminya di mana harga Rp10.000 itu tidak sebanding dengan harga sebelumnya. Bukan perbandingan mengenai nominal tetapi perbandingan dari mutu dan kualitasnya menurut kreator kualitas ini terjadi penurunan yang semula satu tangki penuh bahan bakar itu bisa dipakai seminggu untuk pergi ke stasiun, tapi setelah terjadi kelonjakan harga menjadi 10.000 per liter harga tersebut tidak sesuai dengan kualitasnya, begitu beberapa masyarakat yang mengatakan hal yang sama dengannya melalui televisi dengan kata lain menjadi lebih boros dan cepat habis.

"Dalam Demokrasi Semua Warga Negara Mempunyai Hak Yang Sama Dalam Mengambil Keputusan Yang Dapat Mengubah Hidup Mereka"





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bhavana Bramanty

Bhavana Bramanty Sebuah imajinasi yaa... suatu hal yang tak asing bagi kita semua. Setiap orang mungki pernah atau bahkan sering dalam berim...