MELAWAN LUPA
Sebuah gerakan yang mengajak untuk selalu ingat terhadap pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah masa silam. Gerakan ini didedikasikan untuk melawan lupa perjuangan para aktivis tahun 1965 dan juga 1998.
Tokoh tokoh itu berusaha memperjuangkan HAM dan hak hak yang harusnya didapatkan namun karena kekejaman pemerintahan pada masa itu tokoh tokoh tersebut diculik, dilenyapkan dan juga dianggap berbahaya oleh negara. Tokoh tokoh itu terdiri dari Munir , Widji Thukul, Marsinah, Tan malaka dan masih banyak tokoh lainnya yang seharusnya ia menjadi pahlawan namun kehidupannya dilenyapkan oleh pemerintahan pada masa silam.
“Lawan!”
Itu teriak Widji Thukul. Di masa itu, karena ia menulis dan membaca puisi, bersuara lantang dalam berbagai demontrasi: Ia dilenyapkan! Lahir 26 Agustus1963, setelah demontrasi April 1998, Widji seperti ditelan bumi. Dilenyapkan! Bacalah kumpulan puisi Widji Thukul: ‘Puisi Pelo’ (1984), ‘Darman dan Lain-lain’ (1994), ‘Mencari Tanah Lapang’ (1994), ‘Aku Ingin Jadi Peluru’ (2000); kita akan diberi spekturm yang luas kenapa ia mengajak kita teriak satu kata: Lawan! Widji adalah salah satu pemuda yang gigih melawan penindasan rezim Soeharto.
Jujur, sederhana, berani menegakkan dan menyuarakan suara rakyat, hak asasi manusia, itu yang melekat pada diri Munir Said Thalib (lahir 8 Desember 1965). Ia dibungkam paksa dengan racun berpulang di atas pesawat dalam perjalanannya ke Belanda, 7 September 2004. Kematian Munir sang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), tokoh anti Korupsi, sampai kini masih menyimpan sejumlah misteri. Tinggal rasa pedih jika mengenangnya, terlebih mereka yang pernah mengenal sosok sahaja Munir. Tinggal geram jika membaca kembali bagaimana ia diracun di atas pesawat. Kejam dan biadab.
"Salam kepal tangan kiri kawan"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar